Advertistment

 


NEWS OBSERVASI - Lembaga pemeringkat internasional, Moodys, menaikan rating Company Stand Alone Credit Quality atau Baseline Credit Assesment (BCA) untuk PT PLN (Persero) dua tingkat ditandai dengan turunnya BCA dari semula Baa3 menjadi Ba2. 

Ini berarti turunnya tingkat ketergantungan PLN terhadap Pemerintah karena semakin membaiknya kondisi keuangan PLN secara korporat dibanding tahun sebelumnya sehingga hal-hal tersebut dinilai dapat memberikan ekspektasi positif. Demikian terungkap dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (2/7/2014).

Pertimbangan kenaikan rating tersebut menurut Moody’s adalah adanya kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) pada tahun 2013 dan tahun 2014 (mulai bulan Mei dan Juli 2014) sehingga mengurangi ketergantungan PLN pada subsidi. Kenaikan tersebut memperbaiki secara signifikan credit worthiness perusahaan. Pada tahun 2012 PLN menerima subsidi dari Pemerintah sebesar Rp103,3 triliun atau 44 persen dari total pendapatan.

Pada tahun 2013 PLN menerima subsidi sebesar Rp101,2 triliun atau 39 persen dari total pendapatan. Penurunan porsi subsidi ini akan terus berlanjut di tahun 2014 dan tahun-tahun mendatang. 

Selain itu, upaya penurunan pemakaian BBM dengan perbaikan fuel mix melalui program fast track program (FTP) I yang akan memperbaikicashflow PLN. Meskipun program tersebut membutuhkan biaya capital expenditure yang sangat besar, Moodys mengapresiasi PLN dalam kemampuan mengelola execution risk pada program FTP-1 yang dapat menyelesaikan 6,4 gigawatt (gw) sampai akhir 2013.

Dengan beroperasinya FTP-1 maka mampu mendorong kenaikan pendapatan perusahaan sebesar Rp24,7 triliun dibanding tahun 2012.

Di samping hal-hal tersebut di atas, Moodys juga menyampaikan catatan mengenai hal-hal yang dapat menyebabkan perbaikan atau naiknya rating PLN di masa mendatang, yakni ,embaiknya rasio debt atau capitalization yang ditunjukkan dengan turunnya rasio tersebut menjadi dibawah 75 persen.

Hal tersebut berarti bahwa pendanaan capital expenditure menjadi jauh lebih konservatif dimana sumber dana internal lebih mendominasi dibanding yang berasal dari pinjaman untuk keperluan pendanaan investasi perusahaan.

Membaiknya rasio cashflow atau debt yang dapat dilihat dari naiknya rasio tersebut menjadi diatas 4-4,5 persen.  Semakin tinggi rasio tersebut menandakan bahwa perusahaan memiliki kondisi keuangan yang sehat dengan memiliki cashflow yang cukup atas pinjaman yang dimilikinya.[okezone]
 
Top