Advertistment

 


NEWS OBSERVASI  : Hasil quick count atau hitung cepat Pilpres 2014 antara lembaga survei yang satu dengan yang lainnya berbeda. Salah satu hasil hitung cepat menyatakan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menang, hasil lainnya menunjukkan Jokowi-JK unggul. Selisihnya perbedaannya bahkan mencapai 5 persen. Ada apa gerangan?

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari mengatakan, perbedaan hasil quick countdisebabkan oleh terdapatnya lembaga survei yang menjalankan quick count dengan keliru.

Menurut Qadari, setidaknya terdapat 4 kriteria lembaga survei bermasalah yang turut merilis hasil surveinya, sehingga berdampak pada perbedaan hasil quick count menjadi polemik tersendiri.

"Yang pertama, pelaku tidak memahami metode sampling dengan baik sehingga sampel tidak representatif terhadap populasi. Kedua, pelaku memahami metode sampling tapi pelaksanaan teknis berantakan, sehingga data tidak akurat. Atau data yang masuk sistem mengalami error," ujar M Qadari dalam diskusi yang berlangsung di Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (12/7/2014).

Kemudian yang ketiga, lanjut Qadari, pelaku tidak memahami metodologi dan tidak turun ke lapangan. Tidak punya kerangka sampel TPS, tidak punya relawan, tidak punya data center, serta data yang disampaikan pada publik bukan dari lapangan melainkan fiktif.

"Yang keempat ini, pelaku memahami metodologi, teknis pelaksanaan tapi hasil yang muncul di lapangan diubah atau diutak-atik sesuai keinginan," katanya.

Kredibilitas lembaga survei dewasa ini sangat penting, apalagi jika hal itu dijadikan rujukan dalam pemilihan presiden seperti yang terjadi saat ini.

"Jangan main-main dengan quick count, kalau ini dijadikan rujukan oleh capres, timses, dan para pendukung masing-masing, maka jika hasilnya berbeda bisa timbul saling klaim, saling caci-maki, dan akhirnya bisa saling pukul sesama anak bangsa," pungkas Qadari. 

liputan6.com
 
Top